Seminar Nasional: UGM Menghadapi Masyarakat Sosial dan Budaya ASEAN: Tantangan, Strategi, dan Prospek Kebijakan

Poster Talkshow

Seminar ini bertujuan untuk menelaah, secara lebih mendalam, hubungan antara mobilitas kawasan yang terbentuk dalam kerangka Masyarakat ASEAN dengan kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia. Dalam desain Masyarakat Sosial dan Budaya ASEAN (ASEAN Social and Cultural Community), pendidikan tinggi menjadi salah satu agenda penting. Blueprint Masyarakat Sosial dan Budaya ASEAN telah menyatakan bahwa ASEAN akan membangun masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) yang bertumpu pada integrasi prioritas pendidikan dalam agenda pembangunan ASEAN serta meningkatkan kepedulian terhadap ASEAN melalui pendidikan.

Konsekuensinya, sektor pendidikan menjadi salah satu isu penting untuk menghadapiregionalisasi kawasan dan mobilitas manusia tersebut. Sebagaimana Blueprint Masyarakat Sosial dan Budaya ASEAN yang menyatakan bahwa ASEAN akan membangun masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) yang bertumpu pada integrasi prioritas pendidikan. Untuk itu, pendidikan itu tidak hanya dimaknai sebagai business as usual melainkan sebagai hub untuk melaksanakan integrasi kawasan. Hal ini terkait dengan pembangunan sumber daya manusia dan orientasi pendidikan sebuah negara (perguruan tinggi) dalam menghadapi berbagai konsekuensi dari perkembangan isu-isu regionalisasi kawasan dan mobilitas manusia tersebut. Setidaknya, melalui sektor pendidikan, kecakapan dan kompetensi yang didorong melalui sektor pendidian akan menjadi jalan keluar dari beberapa konsekuensi-konsekensi tersebut.

Namun demikian, sejauh ini konsekuensi regionalisasi kawasan dan mobilitas manusia yang semakin terintegrasi terhadap sektor pendidikan masih menjadi tanda tanya besar Mengingat kita telah berada di era Komunitas ASEAN tahun 2015, hal ini menjadi penting untuk diangkat dalam sebuah kajian yang lebih serius. Untuk keperluan itu, ASEAN Studies Center UGM akan menggelar Seminar bertajuk “UGM Menghadapi Masyarakat Sosial dan Budaya ASEAN: Tantangan, Strategi, dan Prospek Kebijakan”

Can the Subaltern Speak in ASEAN?

Ethnic Rohingya refugees from Myanmar are transported to a temporary shelter in Krueng Raya in Aceh Besar in 2013. Photo: Reuters

Ethnic Rohingya refugees from Myanmar are transported to a temporary shelter in Krueng Raya in Aceh Besar in 2013. Photo: Reuters

Ahmad Rizky M Umar, Postgraduate Student at Department of Politics, University of Sheffield and formerly a Research Assistant at ASEAN Studies Centre, Universitas Gadjah Mada

Can the subaltern speak? Gayatri Chakravorty Spivak, a prominent postcolonial and Indian scholar, raised this question in her popular article (1985). She attempted to draw an analysis of the subaltern, those who were excluded from existing power-relations and thus unable to speak of themselves.

Drawing an analysis through the lens of postcolonial India, Spivak concerned with how the ‘elite’, ‘intellectuals’, and other kind of people in power has failed to make the subaltern speak of themselves. Rather than make the subaltern speaks, intellectuals has attempted to speak about the subaltern as if they were subaltern themselves. 

This creates something like ‘camera obscura’ –to quote Marx— in seeing the subaltern. There were some biases over the construction of subaltern in dominant view. This view has made a subordinate relation between the Colonizers and the Colony. When the Colony has been proclaimed independent, this colonial view has been preserved. In many postcolonial states, including those in Southeast Asia, it is somehow believed that only ‘elite’ or ‘intellectuals’ –those who are educated in modern system— are legitimate to speak representing the country, and thus speak of the ‘subaltern’ in their countries.

Against this backdrop, we can raise the same question: can the Subaltern speak in Southeast Asia, where ten states have been agreed to form a new regional community –namely Association of Southeast Asian Nations (ASEAN)— to maintain peace and stability in the region?

ASEAN was formed in 1967 in a meeting of 5 leading states in Southeast Asia: Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapore, and Phillippines. Its primary objective was actually simple: to maintain peace and security in the region. Those states have agreed to take ‘non-intervention’ position to reach that goal. At the end of the Cold War, its membership was expanded to five other states: Myanmar, Laos, Brunei, Cambodia, and Vietnam.

It is important to take a look at the region’s historical conjuncture. Before 1945, Southeast Asia has been divided by four big colonial states –Spain (Phillippines), Dutch (Indonesia), British (Singapore, Malaysia, and Brunei), and French (Indochina States). Thailand becomes the only state that is free from colonialism –it was becoming a boundary that separated British and French.

Given such a context, politically. geographical construction of Southeast Asia is thus a colonial construction. Indonesia could only be a united nation-state when the Dutch, with its ‘ethical politics’, allowing the Indonesians to get some educations and subsequently awaken nationalism in Indonesian pribumi.

The Malay identity, which is central in the sovereign state of Malaysia, is also in fact British-constructed. The Malaysian state was inherited by British Colonial Sdministrations that had been in power since the 19th century. French colonialism in Indochina divided the region in some ethnic-based countries.

In this context, Southeast Asian identity should be traced in its colonial origins. We cannot simply identify Southeast Asia merely on its existing state –since it has been constructed by the colonizers. We have to critically re-identify Southeast Asia by acknowledging the ‘subaltern’ –those who are marginalized due to their few numbers or apolitical positions.

Nowadays, several ‘subaltern’ communities exist in Southeast Asia. There are some minority ethnic groups such as Papuans in Indonesia, Dayaks in Malaysia, Pattani and Mons in Thailand, or Rohings and Karens in Myanmar.

Many of them have resisted. We have witnessed some groups who are attempting to express their form of resistance through separatism or political insurgency. There are, for example, Komite Nasional Papua Barat in Indonesia or Moro Islamic Liberation Front who have been accused as national threat by each national authority.

In another prominent case, there are Rohing people in Myanmar, who were externally displaced and taken refugees and hence leaving new problems in other Southeast Asian Countries.

These subalterns remain with their own problems in each country. But as we are getting closer with the upcoming ASEAN Community, which is aimed at gathering all Southeast Asian countries to a ‘people-oriented’ regionalism, we have to ask the same question as Spivak did: can those subalterns speak in the upcoming ASEAN Community?

Since its establishment, ASEAN tends to be very state-centric. It has been formed as a place to negotiate state’s interest. There is a weakness in this state-centric tendency: ASEAN only serve as ‘arena of negotiation’ from state’s elite who have been, by Law, acclaimed as representative as the State.

ASEAN governing structure also proves this argument. ASEAN Structure acknowledges the ASEAN Summit as the highest structure that can produce legally-binding decision for each member states. The Summit is obviously attended only by State’s representatives. It is proven to be very elitist, and thus left not enough room for the subalterns to speak of themselves in front of ASEAN People.

Thus, instead of giving rooms for the subaltern to speak, the ASEAN State’s representatives seem to acclaim themselves as the representation of the Subalterns, which was rarely discussed in the Summit.

Indeed, it is very problematic. ASEAN has been entrapped by its ‘colonial legacy’ which perceives the state as the only subject who can speak and articulates their interests in political arena. They have repressed voices of the Subaltern in the making of ASEAN –which only makes the ASEAN States as the reincarnation of the colonizers in Southeast Asian skin.

Thus, it is therefore important for the ASEAN State’s representatives, who will be representing their states in the upcoming ASEAN Summit, to reflect its nature of regionalism. If the upcoming ASEAN Summit can’t address this problem, it is likely that the idea of ‘ASEAN Community’ has not yet ready to be faced by both people and the state.

Ulasan: Meninjau Keuniversalan Gerakan Sosial di ASEAN

Feature - Talkshow News

Menurut Herbert Blumer (1969), gerakan sosial dapat dilihat sebagai kepentingan kolektif untuk membangun sebuah tatanan hidup yang baru. Di lain sisi, gerakan social berarti suatu kolektifitas yang mengadakan kegiatan dengan kadar kesinambungan tertentu untuk menunjang atau menolak perubahan yang terjadi di dalam masyarakat atau kelompok yang mencakup kolektifitas itu (Turner, Killan, 1972). Pada dasarnya, gerakan sosial adalah cara alternatif untuk menyuarakan persoalan-persoalan di level domestik, dengan tujuan dan maksud tertentu tergantung pada pencetusnya. Persoalan sosial di masyarakat kadang kala dikesampingkan oleh elit. Dengan begitu, gerakan sosial bangkit dari level bawah untuk melakukan dekonstruksi pada struktur elit-massa, dan keluar sebagai solusi terhadap permasalahan sosial yang ada.

Perbincangan mengenai gerakan sosial kerap terhubung dengan cita-cita para Negara anggota ASEAN yang dalam waktu yang singkat ini akan mengimplementasikan Komunitas ASEAN 2015 sebagai babak baru kehidupan politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Implikasi dari integrasi regional ini paling tidak akan memunculkan permasalahan-permasalahan sosial baru, seperti kesenjangan sosial, perbedaan identitas, dan penegakan hak asasi manusia. Berbicara melalui pendekatan yang berbeda, ASEAN sering kali dilihat sebagai rezim berbasis elit dan hanya merujuk pada nilai-nilai universal sebagai pendorong kebijakan. Padahal, cita-cita dari negara ASEAN adalah sebuah proses regionalisme yang tidak mengesampingkan masyarakat sebagai elemen utama dalam proses integrasi. Merespon permasalahan semacam ini, banyak sekali gerakan sosial yang bermunculan untuk melancarkan protes dan melawan elit dari segi perumusan dan implementasi kebijakan domestik—meskipun dengan cara pandang dan nilai yang berbeda-beda.

Berangkat dari permasalahan tersebut, ASEAN Studies Center, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Project Child Indonesia dan Social Movement Institute berhasil menyelenggarakan sebuah talkshow bertajuk “Meninjau Keuniversalan Gerakan Sosial di ASEAN” pada tanggal 29 Oktober 2015 bertempat di Selasar Barat, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Empat narasumber yang membahas isu ini dengan sangat komprehensif dari berbagai sudut pandang, ialah AB. Widyanta, S. Sos., M.A. (dosen Jurusan Sosiologi, Universitas Gadjah Mada), Eko Prasetyo, S.H. (Ketua Badan Pekerja Social Movement Institute), Ardhana Pragota (Perwakilan ASEAN Youth Forum), dan Surayah Ryha, S.Si., M.Sc. (Co-founder Project Child Indonesia).

Berbicara soal gerakan sosial di ASEAN, masing-masing dari pembicara memberikan pandangan yang spesifik. Eko Prasetyo berpendapat bahwa ASEAN cenderung disambut dengan kebahagiaan dan kesenangan. Padahal, kita masih memiliki permasalahan politik dan sosial yang pelik di negara-negara ASEAN. Pada tahun 1970-an, sebuah buku catatan bawah tanah yang ditulis oleh seorang aktivis Burma bercerita soal diktator di Burma yang mengisahkan bagaimana mahasiswa harus berurusan dengan diktator, dan membangun gerakan berorientasi ideologi kiri. Di Malaysia dan Singapura, tidak ada kebebasan untuk berpolitik. SMI sering melakukan kunjungan ke Malaysia untuk mengajarkan mahasiswa Malaysia bagaimana berdemonstrasi yang benar – secara diam-diam. Pada titik ini, perlu untuk membangun jaringan gerakan sosial melalui kunjungan ke negara-negara ASEAN.

Kemudian, sambutan kebahagiaan atas terbentuknya ASEAN kerap dekat dengan komersialisasi. Hal ini yang digarisbawahi oleh Eko bahwa komersialisasi dapat mengonsumsi ruang publik. Ruang interaksi untuk menebar nilai-nilai kemanusiaan digerogoti secara perlahan oleh korporasi, konsumerisme, individualisme, dan kapitalisme. Namun, di satu sisi, mari sambut ASEAN dengan memanfaatkan peluang di mana ruang publik dapat diperluas. Mahasiswa harus bisa menjadi jembatan yang memperkuat interaksi masyarakat di level bawah. ASEAN adalah ruang publik yang harus dioptimalkan.

Dengan suara lantang, AB Widyanta cenderung meletakkan pandangan skeptis terhadap ASEAN. Ia bertanya, “Apakah kita benar-benar ASEAN?”. Hal ini terkait dengan kecurigaannya bahwa ASEAN adalah naming dari antropologi kolonial. Kondisi ini, menurut dirinya, harus dibenahi agar kapitalisme yang menjadi arus besar dalam pembentukan ASEAN tidak merambat hingga aspek politik. Secara sosiologis, ia berusaha membangun pandangan bahwa ASEAN lagi-lagi tidak boleh diterima begitu saja sebagai kemenangan atau kebahagiaan di Asia Tenggara. Permasalahan yang pelik justru datang dari kebahagiaan tersebut.

Fakta menunjukkan bahwa gerakan sosial yang ada di negara-negara ASEAN cenderung partikular dan harus ditelisik noddle point-nya. Hal ini menjadi agenda besar bagi gerakan-gerakan sosial untuk menjembatani diri satu sama lain. Sederhananya, menggabungkan yang partikular ke dalam seruan bersama. Fragmentasi adalah hal yang harus segera dicari jalan keluarnya. Memang, belum terdapat contoh yang dapat menggambarkan pemikiran abstrak ini. Menurutnya, tahapan universalisme gerakan sosial di ASEAN berada dalam on-going process. Semua akan sangat tergantung pada agen-agen gerakan sosial.

Ardhana Pragota, datang dengan segi keilmuan yang popular, melihat kaum muda sebagai agen yang bekerja untuk mengejar agenda-agenda tersebut. Pada intinya, kaum muda harus mampu mentransformasi ASEAN agar sesuai dengan masa depan mereka berdasarkan konteks sosio-historis, ekonomi, politik, dan budaya. Menurutnya, ilusi Masyarakat Ekonomi ASEAN telah menginfiltrasi pemikiran anak muda bahwasanya kehidupan yang tepat adalah individualis, kompetitif, dan apatis terhadap lingkungan sosial.

Berada dalam wadah ASEAN Youth Forum, Pragota melihat bahwa konektivitas kaum muda di level ASEAN masih rendah. Pertama, tidak seluruh partisipan dalam ASEAN Youth Forum adalah perwakilan yang aktif untuk mengejar kepentingan negara mereka. Bahkan, untuk isu Mary Jane, perwakilan Filipina tidak berbuat apa-apa alih-alih perwakilan Indonesia, ia klaim, berhasil menuntaskan kasus tersebut.

Berbeda dari ketiga pembicara di atas, Surayah Ryha melihat bahwa gerakan sosial di ASEAN dapat dipersatukan dengan memanfaatkan teknologi di era globalisasi. Terkadang, pola individualisme di akun pengguna media sosial dapat kita manfaatkan untuk kepentingan bersama. Contoh, ketika isu anak-anak cenderung dikesampingkan, Project Child Indonesia memanfaatkan media sosial untuk membangun tren dan menekankan bahwa penghidupan anak adalah elemen yang cukup penting untuk diperhatikan. Pada titik ini, individualisme yang merajalela dapat kita satukan dengan merujuk pada sebuah tren. Ini yang dinamakan sebagai era globalisasi – bagaimana sebuah isu dapat diperluas dengan cara yang mudah dan instan. Ryha berpikir bahwa cara ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas gerakan-gerakan sosial, tentunya yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan, dan non-radikal. Ia juga percaya bahwa kapitalisme yang dibangun dalam kerangka ASEAN dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sosial dengan melibatkan komunitas lokal. Pada intinya, tidak ada yang salah dengan kapitalisme – kecuali ia disalurkan kepada orang yang salah.

Melalui berbagai diskusi yang komprehensif ini, ASEAN Studies Center berkesimpulan bahwa keuniversalan gerakan sosial di ASEAN adalah sebuah proses yang hanya akan tercapai jika dikerjakan oleh agen-agen sosial. Meskipun banyak sekali gap dan partikularitas di antara gerakan-gerakan sosial yang ada, perlu usaha untuk saling menjembatani, mencari titik persamaan (merujuk pada situasi politik, ekonomi, dll), dan meminimalisir noddle point-nya.