Strategi Pengembangan Kapasitas Aparatur dalam Konteks Masyarakat Ekonomi ASEAN

Riset ini dilatarbelakangi oleh kemajuan proses integrasi ekonomi regional dalam skema Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang menuntut untuk mendifinisikan kembali strategi penguatan kapasitas aparatur. Untuk mendefinisikan kapasitas aparatur tersebut maka akan dilihat dari pemahaman dan kesiapan pemerintah, strategi pengembangan kapasitas pemerintah, dan bagaimana pemetaan regulasi baik di tingkat nasional maupun lokal. Riset ini kemudian akan fokus pada aparatur di sektor perdagangan dan investasi, yang merupakan isu krusial bagi negara Middle Power seperti Indonesia. Selain itu sektor perdagangan dan investasi merupakan tantangan yang harus dihadapi Indonesia pada pelaksanaan MEA. Apalagi jika dibandingankan dengan negara-negara di ASEAN lainnya, posisi Indonesia masih tertinggal.

EXECUTIVE SUMMARY

Seiring dengan kemajuan proses integrasi ekonomi regional dalam skema MEA (MEA), ada tuntutan mendesak untuk mendefinisikan kembali strategi penguatan kapasitas aparatur aparatur negara. Tuntutan tersebut didasari oleh beberapa alasan. Pertama, walaupun Indonesia memiliki banyak peluang untuk memenangkan MEA, tanpa intervensi yang tepat dari pemerintah dan aparaturnya tujuan-tujuan MEA seperti perwujudan pembangunan yang merata dan berkeadilan sulit terpenuhi. Kedua, sudah banyak studi yang dilakukan untuk mengukur awareness dan preparedness masyarakat dalam menghadapi MEA baik oleh pemerintah maupun lembaga penelitian, namun belum memberikan perhatian terhadap kesiapan pemerintah. Cara pandang ini seakan-akan mengasumsikan pemerintah sendiri telah siap padahal aparatur baik di pusat dan daerah banyak mengalami kegamangan dalam menghadapi MEA. Ketiga, dokumen strategi penguatan aparatur negara yang sudah ada umumnya bersifat generik, memberikan resep yang bersifat general pada lingkungan kebijakan yang statis, namun belum memberikan resep yang lebih spesifik kepada pemerintah daerah. Alih-alih mampu memberikan arah yang kontekstual sesuai dengan perkembangan dinamika global, dokumen tersebut menjebak aparatur pada jeratan birokratisasi reformasi birokrasi. Keempat, adanya indikasi inkompatibilitas kapasitas institusi publik di Indonesia dalam menghadapi MEA. Hal ini terlihat dari rendahnya daya saing kapasitas pengembangan institusional Indonesia dalam menopang MEA (lihat ASEAN Competitiveness Fundamentals, 2013).

Dengan berpijak pada kerangka Competitive and Representative Government, penelitian ini ingin berargumen bahwa negara justru semakin penting dalam konteks regionalisme ekonomi di kawasan (lihat Nesadurai, 2003; Nesadurai, 2013). Negara berfungsi untuk meregulasi kebijakan-kebijakan domestik, mengefektifkan pelayanan publik, dan memfasilitasi pemerataan ekonomi agar tidak muncul ketimpangan (lihat Shin, 2005). Dalam konteks MEA, peran-peran tersebut membutuhkan aparatur yang siap untuk menghadapi integrasi ekonomi regional dengan kesiapan yang baik dan jauh dari kesan business as usual. Kasali (2014) berpendapat bahwa dalam menghadapi MEA, organisasi publik harus dibangun tidak hanya dengan kapasitas untuk beradaptasi namun dengan agility yaitu ketangkasan dalam menangkap peluang.

Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi secara teoretik terhadap pengembangan literatur dan keilmuan terkait peran negara dalam pasar tunggal ASEAN yang selama ini masih belum banyak dipelajari dan secara praktis terhadap strategi pengembangan kapasitas aparatur negara dalam menghadapi MEA. Melalui skema kerjasama dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN), output penelitian ini akan menjadi pedoman bagi penyusunan instrumen pengembangan kompetensi aparatur negara dalam konteks MEA. Instrumen tersebut lebih jauh akan diterjemahkan dalam berbagai bentuk pelatihan dan kegiatan pengembangan kapasitas pada instansi terkait di tingkat pusat dan daerah. Dengan keterlibatan KADIN, kajian ini nantinya akan diperkaya dengan input dari sektor swasta dalam pembentukan strategi pengembangan aparatur di sektor publik. Selain itu, dokumen yang dihasilkan diharapkan mampu menjadi materi advokasi bagi KADIN di berbagai daerah dalam mendorong terbentuknya respon sektor publik yang tepat dan tangkas dalam menghadapi MEA.

– – –

Researchers

  1. Dr. Gabriel Lele
  2. Arie Ruhyanto, M.Sc
  3. M. Prayoga Permana, M.PP
  4. Sukmawani Bela Pertiwi, M.A

Assistant

  1. Dhian Shinta Pradevi, S.IP
  2. Bedhah Adityo, S.IP