Menilai Masyarakat Sipil dalam Proses Regionalisme ASEAN Pasca-2007: Trayektori untuk Advokasi

Riset ini mencoba untuk memetakan trayektori bagi aktor-aktor non-negara –atau stakeholders ASEAN— untuk melakukan advokasi kebijakan di tingkat ASEAN. Studi-studi mainstream yang ada cenderung untuk menganggap aktor non-negara hanya sebagai ‘pelengkap’ dalam proses-proses regional yang ada (lih. Gerard, 2014). Setelah 2007, ASEAN telah memasukkan klasul ‘people-oriented’ yang implikasinya adalah mengakui keterlibatan masyarakat sipil dalam proses-proses regional yang ada. Sejak awal dekade 2000an, kelompok masyarakat sipil sudah mencoba untuk masuk ke ranah regional dengan menyelenggarakan ASEAN Civil Society Conference yang mengakomodasi banyak organisasi masyarakat sipil untuk menyuarakan aspirasinya kepada ASEAN. Kendati demikian, ASEAN juga sampai saat ini masih didominasi oleh ‘negara’ sehingga pengambilan keputusannya juga masih sangat state-centrist (Collins, 2008; Chandra, 2009; Gerard, 2014). Riset ini akan  menjelaskan (1) bagaimana dan sejauh mana ASEAN menyediakan ruang bagi stakeholders-nya untuk terlibat dalam proses-proses regional, dan (2) bagaimana para stakeholders memanfaatkan ruang yang ada untuk mengartikulasikan kepentingan mereka. Selain itu, riset ini juga akan kelompok masyarakat sipil dan kelompok kepentingan di Asia Tenggara untuk menjadi panduan guna melakukan advokasi kebijakan pada level regional.

Research Progress: Interview & FGD

 

Researchers:

  • Atin Prabandari, MA (IR)
  • Randy Wirasta Nandyatama, MSc
  • Dr Bevaola Kusumasari
  • Novadona Longgina Bayo, MA

Research Assistant : 

  • Ahmad Rizky M. Umar, SIP